Minggu, 01 Maret 2009

Petani Beralih ke Pupuk Organik

Petani Beralih ke Pupuk Organik
Banyak Manfaat yang Dirasakan
KOMPAS/KHAERUDIN
Namora Manalu, petani jeruk di Desa Lobu Tua, Kecamatan Siborongborong, Kabupaten Tapanuli Utara, mengaduk campuran kompos untuk pembuatan pupuk organik, Jumat (20/6). Pupuk organik yang dibuat Namora merupakan campuran kompos, ikan busuk, dedak, dan sekam yang dicampur dengan bakteri pengurai. Petani di Sumatera Utara seperti Namora sekarang ini mulai beralih menggunakan pupuk organik akibat menghilangnya pupuk bersubsidi dan mahalnya pupuk kimia nonsubsidi.
Sabtu, 21 Juni 2008 | 03:00 WIB

Tapanuli Utara, Kompas - Mahalnya harga pupuk kimia nonsubsidi dan menghilangnya pupuk bersubsidi di beberapa daerah di Sumatera Utara, seperti Serdang Bedagai, Simalungun, Toba Samosir, dan Tapanuli Utara, membuat petani daerah tersebut mulai beralih menggunakan pupuk organik. Mereka mengaku bisa mengurangi pengeluaran.

Pusat Koperasi Kredit Sumatera Utara yang memiliki 280.000 orang telah memprogramkan pelatihan penggunaan pupuk organik.

Menurut Pelaksana Manajer Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Sumatera Utara (Sumut) Robinson Bakara, hampir 60 persen anggota Puskopdit Sumut adalah petani. Mereka adalah orang yang paling terpukul akibat menghilangnya pupuk bersubsidi. Di sisi lain, pupuk kimia nonsubsidi, lanjut Robinson, selain harganya tak terjangkau petani biasa, juga sulit ditemukan di pasaran.

”Sekarang kami mulai menganjurkan petani untuk menggunakan pupuk organik. Sebanyak 21 koperasi kredit atau credit union di Sumatera Utara, yang tersebar mulai dari Karo, Humbang Hasundutan, Simalungun, hingga Tapanuli Utara, kami jadikan proyek percontohan untuk penggunaan pupuk bersubsidi,” papar Robinson, Jumat (20/6) di Siborongborong, Tapanuli Utara.

Robinson mengatakan, menghilangnya pupuk bersubsidi dan mahalnya harga pupuk nonsubsidi membuat Puskopdit Sumut ikut menanggung akibatnya.

”Petani anggota kami kan mengambil kredit untuk membeli sarana produksi. Mahalnya harga pupuk nonsubsidi dan menghilangnya pupuk bersubsidi dari pasaran membuat mereka tak lagi bisa bertani. Ini membuat petani tak bisa lagi mengembalikan pinjaman ke koperasi,” tuturnya.

Di Siborongborong, pupuk organik mulai digunakan petani jeruk. Netty Sianipar, petani jeruk di Desa Lobu Tua, Kecamatan Siborongborong, Tapanuli Utara, telah satu tahun menggunakan pupuk organik. Menurut Netty, dia mulai menggunakan pupuk organik setelah mendapat pelatihan di Puskopdit Sumut.

Netty yang merupakan anggota Koperasi Kredit Satolop Siborongborong mengaku banyak merasakan manfaatnya setelah menggunakan pupuk organik.

”Manfaat yang jelas saya rasakan adalah ongkos produksi yang berkurang drastis. Jika menggunakan pupuk kimia, saya harus mengeluarkan uang sampai Rp 15 juta untuk mendapatkan 1,5 ton pupuk NPK. Dengan pupuk organik sebanyak 1,5 ton yang memiliki kandungan sama dengan NPK, saya paling harus mengeluarkan Rp 2,4 juta untuk ongkos pembuatannya,” kata Netty.

Dia kini telah mendapatkan manfaat dari sekali panen jeruknya tahun ini. Menurut Netty, panen jeruk biasa dia lakukan dua kali dalam setahun. Dari hasil panen setelah menggunakan pupuk organik, ada peningkatan produksi sekitar 20 persen.

”Kalau dulu dengan pupuk kimia, hasil panen jeruk untuk lahan seluas satu hektar 50 ton. Sekarang dengan pupuk organik, satu hektar bisa menghasilkan 60 ton jeruk,” katanya.

Netty mengungkapkan, perubahan fisik paling mencolok setelah dia menggunakan pupuk organik adalah tekstur tanaman. Saat menggunakan pupuk kimia, setelah pemupukan tekstur tanah mengeras dan dia harus kembali menggemburkan tanah jika mau melakukan pemupukan lagi. Kini, dengan menggunakan pupuk organik, tekstur tanah, lanjut Netty, bisa gembur sendiri.

”Hal ini tentu mengurangi pekerjaan,” katanya.

Pelatihan pemakaian pupuk organik yang dilakukan Puskopdit Sumut, kata Robinson, meliputi cara pembuatan hingga mempersiapkan pemasaran produk pertanian organik. Robinson mengatakan, Puskopdit Sumut masih cukup kesulitan mengubah tradisi petani menggunakan pupuk kimia ke pupuk organik.

”Kesulitannya karena petani sudah sangat tergantung menggunakan pupuk kimia. Belum lagi mereka juga masih khawatir bagaimana memasarkan hasil pertanian organik mereka,” katanya.

Namun, Robinson yakin bakal semakin banyak petani di Sumut yang menggunakan pupuk organik.

”Dua tahun terakhir, pupuk kimia nonsubsidi harganya semakin mahal, sementara pupuk bersubsidi menghilang di pasaran. Satu-satunya cara petani bisa kembali melakukan aktivitasnya ya dengan menggunakan pupuk organik,” ujarnya.

Pupuk organik dibuat dari bahan-bahan organik atau alami. Bahan-bahan yang termasuk pupuk organik, antara lain, adalah pupuk kandang, kompos, gambut, rumput laut, dan guano.

Berdasarkan bentuknya, pupuk organik dapat dikelompokkan menjadi pupuk organik padat dan pupuk organik cair. Beberapa orang juga mengelompokkan pupuk-pupuk yang ditambang, seperti dolomit, fosfat alam, kiserit, dan juga abu, ke dalam golongan pupuk organik.

Beberapa pupuk organik yang diolah dipabrik, misalnya, adalah tepung darah, tepung tulang, dan tepung ikan.

Pupuk organik cair, antara lain, adalah ekstrak tumbuh-tumbuhan, cairan fermentasi limbah cair peternakan, dan fermentasi tumbuh-tumbuhan. Pupuk organik memiliki kandungan hara yang lengkap. (BIL)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar